
Bruk! Budi membanting punggung ke sandaran kursi kerjanya sambil perlahan mengurut keningnya merasakan beratnya pekerjaannya siang ini.
Bagaimana tidak, sudah empat kali keluar masuk ruang bos nya untuk meminta tanda tangan dokumen nota, namun empat kali juga revisinya ditolak.
Sambil menyeruput kopi hitamnya yang mungkin bertambah pahit, Budi sejenak merenung bernostalgia. Masih terbayang di benaknya 6 bulan lalu dia dipuji-puji oleh para dosennya saat lulus Sarjana dengan predikat Cum Laude dengan nilai A sebagai penutup manis tugas akhir atau skripsinya yang dahsyat.
Namun seolah serasa sia-sia saat ini, saat dia bekerja di salah satu perusahaan asuransi. Bahkan sekedar menulis selembar surat atau nota saja minimal harus revisi tiga kali! Pekerjaan pembuatan dokumen serasa menjadi hal yang horror bagi Budi.
Apa yang terjadi dengan Budi?
Dimana semua “kesaktian” bahasa dan tulisannya selama kuliah?
Hai, fresh graduates! Apakah kamu baru saja melepaskan toga dan memasuki dunia kerja dengan jas dan dasi atau blazer chic dan sepatu hak tinggi? Jika ya, mungkin sebagian dari kamu merasakan apa yang dirasakan Budi diatas.
Seringkali kamu merasa sedikit bingung atau bahkan terkejut dengan perubahan gaya bahasa yang digunakan di tempat kerja baru dibandingkan dengan gaya bahasa yang kamu biasa gunakan saat menulis skripsi atau tesis.
Dulu, saat masih kuliah, berapa kali kamu menulis kata-kata seperti “empiris”, “metodologi”, “fenomenologi”, atau “post-strukturalis”? Mungkin kamu bahkan memiliki kamus filsafat khusus yang kamu gunakan hanya untuk memahami apa yang kamu tulis di skripsi.
Nah, lupakan itu! Dunia kerja akan mengajakmu kembali ke SD, belajar menulis ulang dengan bahasa yang sederhana dan efektif.
Bayangkan saja, kamu adalah seorang anak TK yang bermain di taman bermain. Kamu melihat-lihat sekeliling, lalu kamu melihat ayunan. Kamu ingin mengajak temanmu bermain di ayunan, tapi bagaimana cara menjelaskannya?
Mungkin di dunia skripsi, kamu akan bilang, “Mari kita melakukan analisis kuantitatif terhadap gravitasi dan momentum yang dihasilkan oleh pergerakan ayunan dan memanfaatkannya sebagai media rekreasi”. Sedangkan di dunia kerja, cukup dengan berkata, “Yuk, main ayunan!”.
“A writer is someone for whom writing is more difficult than it is for other people.”
Thomas Mann, Essays of Three Decades
Menulis dalam bahasa bisnis seperti bermain ayunan, tidak perlu berbelit-belit. Komunikasi harus efisien, jelas, dan langsung. Bukan berarti kamu tidak boleh menggunakan bahasa yang elegan atau kata-kata yang rumit, tapi jangan sampai kamu terjebak dalam labirin bahasa sendiri sehingga pesan yang ingin disampaikan menjadi kabur.
Mungkin kamu merasa seperti anak TK yang dipaksa belajar menulis lagi. Tapi lihat dari sisi positif, bukan berarti kemampuanmu saat ini tidak ada gunanya. Saat kamu belajar menulis skripsi atau tesis, kamu belajar berpikir kritis, mencari bukti, dan merumuskan argumen.
Semua itu adalah keterampilan yang berharga, dan sekarang saatnya untuk mentransfer keterampilan itu ke dalam konteks yang baru.
Beberapa saran yang mungkin bermanfaat untuk menerjemahkan gaya tulisanmu dari akademisi ke bisnis antara lain;
#1 Jangan Takut Menyederhanakan
Kadang-kadang, orang merasa bahwa menulis dalam bahasa yang rumit membuat mereka tampak lebih pintar. Tapi dalam bisnis, orang lebih menghargai kemampuan untuk menyampaikan ide secara jelas dan singkat. Jadi, berusahalah untuk menyederhanakan kalimat dan menghindari jargon yang tidak perlu.
#2 Fokus pada Tujuan
Jangan lupa, tujuan utama tulisanmu adalah untuk berkomunikasi, bukan untuk memamerkan pengetahuanmu. Fokus pada pesan yang ingin disampaikan, dan pastikan orang lain dapat memahaminya dengan mudah. Jangan menulis kalimat berbelit-belit yang hanya akan membuat orang lain bingung.
#3 Gunakan Bahasa Aktif
Bahasa aktif lebih langsung dan mudah dipahami. Sebagai contoh, daripada mengatakan “Laporan akan diserahkan oleh saya”, lebih baik katakan, “Saya akan menyerahkan laporan”. Dengan cara ini, kamu membuat pesanmu jauh lebih jelas.
#4 Praktek, Praktek, Praktek
Tidak ada cara lain untuk menjadi ahli dalam bahasa bisnis selain dengan berlatih. Buatlah draft, baca ulang, dan mintalah orang lain untuk membaca dan memberikan masukan. Semakin banyak kamu menulis, semakin baik kamu akan menjadi.
#5 Jangan Takut Gagal
Ingat, ini adalah sebuah proses belajar. Kamu mungkin akan membuat kesalahan, dan itu tidak masalah. Jangan biarkan rasa takut gagal menghentikanmu dari berusaha. Setiap kesalahan adalah kesempatan untuk belajar dan berkembang.
“One day I will find the right words, and they will be simple.”
Jack Kerouac, The Dharma Bums
Namun di sisi lain, ada juga hal-hal yang perlu kamu hindari dalam belajar menulis bahasa bisnis antara lain;
#1 Menggunakan Jargon Berlebihan
Dalam dunia akademik, penggunaan jargon adalah hal yang umum dan seringkali diperlukan. Namun, dalam komunikasi bisnis, jargon seringkali membuat pesan menjadi sulit dimengerti dan mungkin menyulitkan kolaborasi. Ingatlah bahwa tujuan utama menulis dalam konteks bisnis adalah untuk berkomunikasi dengan jelas dan efisien.
#2 Menulis Panjang Lebar
Meskipun menulis skripsi atau tesis biasanya membutuhkan penjelasan yang mendalam dan detail, dalam komunikasi bisnis, kejelasan dan ringkasan biasanya lebih dihargai. Hindari menulis kalimat yang berbelit-belit dan berusaha untuk mencapai titik pesanmu secepat mungkin.
#3 Menyampaikan Informasi yang Tidak Relevan
Dalam dunia bisnis, waktu adalah uang. Jadi, hindari mengisi pesanmu dengan informasi yang tidak relevan atau tidak perlu. Sebisa mungkin, berikan informasi yang spesifik dan relevan dengan topik yang sedang dibahas.
#4 Tidak Mengoreksi Kesalahan Pengetikan atau Gramatikal
Meskipun kesalahan kecil mungkin tidak tampak seperti masalah besar, mereka bisa memberikan kesan yang tidak profesional dan bahkan bisa mengubah arti dari pesanmu. Pastikan untuk selalu memeriksa tulisanmu untuk kesalahan sebelum mengirimnya.
#5 Menjadi Terlalu Formal atau Tidak Formal
Menemukan keseimbangan yang tepat antara formalitas dan informalitas bisa menjadi tantangan. Terlalu formal bisa membuatmu terlihat tidak akrab, sementara terlalu informal bisa membuatmu terlihat tidak profesional.
Cobalah untuk menyesuaikan tingkat formalitas dengan situasi dan dengan orang yang kamu komunikasikan.
#6 Mengabaikan Etika Email
Email masih menjadi cara komunikasi utama di banyak tempat kerja, dan ada beberapa aturan etiket yang harus diikuti.
Misalnya, selalu membalas email dalam waktu yang tepat, tidak menggunakan huruf kapital berlebihan (karena bisa tampak seperti kamu sedang berteriak), dan menggunakan subjek email yang jelas dan informatif.
“A word after a word after a word is power.”
Margaret Atwood
Berbicara dalam bahasa bisnis mungkin tampak menakutkan pada awalnya, tetapi dengan waktu dan praktek, kamu akan menjadi ahli dalam hal itu. Ingat, bahasa bisnis bukanlah tentang memamerkan pengetahuan atau membingungkan orang lain dengan jargon yang rumit. Itu semua tentang komunikasi efektif.
Jadi, jangan merasa tertekan! Kamu mungkin merasa seperti anak TK yang sedang belajar menulis, tetapi ingatlah, setiap anak TK akhirnya belajar cara menulis, dan demikian juga denganmu.
Dunia kerja tidak menuntutmu untuk lupa cara berbahasa dalam skripsi atau tesis. Ia hanya ingin kamu beradaptasi dan berkomunikasi dengan cara yang paling efektif.
Jadi, siapkan pulpenmu, buka laptopmu, dan mulailah bermain-main dengan bahasa bisnis. Kamu mungkin merasa sedikit canggung pada awalnya, tapi dengan waktu, kamu akan menemukan ritme dan gaya sendiri.
Dan siapa tahu? Kamu mungkin bahkan menemukan bahwa kamu lebih suka berbicara dalam bahasa bisnis daripada bahasa akademisi.
Selamat bertransformasi dari dunia toga ke dunia jas. Selamat memasuki dunia baru ini dengan semangat dan keberanian. Dunia kerja menanti dengan penuh tantangan, dan kamu pasti akan melaluinya dengan sukses.
Kamu bukan hanya mampu, tapi kamu juga pantas berada di sini.
Jadi, tetap semangat ya!
Salam Perspexto!
Leave a comment