Bromo Adventure 2014 – Mandiri Club Cycling (MCC)

Bromo Adventure Teaser

Bromo Graduation
Mandiri Club Cycling – Bromo Adventure

Gunung merupakan suatu fenomena alam yang selalu menyimpan tantangan dan misteri untuk dijelajahi dan di syukuri. Hal ini lah yang membuat goweser Mandiri Club Cycling (MCC) lagi-lagi menjalani “ritual” naik gunung menjelang akhir tahun. Tidak tanggung-tanggung kali ini objek eksplorasi adalah Gunung Bromo yang merupakan salah satu objek wisata termasyur di dunia bertajuk “MCC Bromo Adventure” . Gunung Bromo merupakan gunung berapi aktif ke-3 yang menjadi tujuan perjalanan MCC setelah Gunung Merapi (Jogja) dan Gunung Dieng (Wonosobo).

Acara Bromo Adventure kali ini diikuti oleh 24 goweser yang terdiri dari 20 goweser Bank Mandiri dan 4 goweser undangan dimana salah satunya merupakan atlet triathlon “Ironman” Indonesia yang sudah cukup populer .. Om Chaidir Akbar.

Perjalanan MCC kali ini juga menjadi ajang “hajatan” tersendiri rekan-rekan Bank Mandiri Area Malang dibawah pimpinan Pak Hargo (Area Manager) dan Pak Tejo yang selama ini turut mempersiapkan dan mengawal terselesaikannya acara Bromo Adventure ini dengan aman dan sukses.

Walaupun secara resmi perjalanan dimulai pada tanggal 5-7 Desember 2014, tapi pesona Bromo sepertinya membuat beberapa MCCers “gatal kaki” dan nekat berangkat sehari sebelumnya demi mencicipi surga Bromo lebih awal.

Para "Pendahulu"
Para “Pendahulu”

Sebut saja sesepuh-sesepuh MCC macam Om Denni “Kopral”, Pak Denni Admiral dan Pak Haryoko yang sukses melakukan “jump start”, bahkan tidak tanggung-tanggung untuk 2 nama pertama alias Duo Denni memulai gowes mereka dari bandara Abdul Rahman SalehMalang sampai ke desa Ngadas yang terletak 4 km dari finish etape pertama Bromo Adventure.

Peserta lain berangkat bersama pada Jumat sore tanggal 5 Desember 2014 dengan moda transportasi kereta Gajayana jurusan Jakarta – Malang dengan waktu tempuh 17 jam, sedangkan sepeda sudah diberangkatkan dulu pada hari Kamis siang menggunakan truk untuk mengantisipasi kondisi perjalanan dan ketepatan waktu.

MCC at Gajayana
Rombongan MCC

Setelah touchdown stasiun Malang dan sejenak berkuliner rawon SBY sebagai ajang carbo loading, para goweser dijemput oleh tim panitia dengan menggunakan 5 mobil untuk lansung menuju garis start di Rest Area Gubuklakah yang berjarak 15 km dari stasiun Malang.

Rest Area Poncokusumo - Gubuk Klakah
Rest Area Poncokusumo – Gubuk Klakah
Amunisi wajib goweser
Amunisi wajib goweser

Hujan, kabut dan udara dingin (pastinya) mewarnai start gowes Bromo Adventure kali ini. Dengan diawali shalat Dzuhur, doa dan breifing singkat dari panitia, tepat pukul 13.05 WIB, 24 goweser memulai kayuhan petualangan diatas roda merayap menuju lereng kawasan Bromo. Etape pertama dimulai dari Gubuklakah – Ngadas – Simpang Jemplang – Savana Bromo – Cemorolawang (finish di penginapan) dengan estimasi jarak tempuh 27 – 30 km.

Seperti biasa kami ternyata tidak sendiri, ada rombongan goweser lain ( 100 an goweser) yang juga turut meramaikan area Bromo – Tengger. Bedanya, mereka terlihat lebih “waras” dengan memilih opsi “down hill/ mountain” daripada kami (MCC) yang memang tidak bisa “hidup” tanpa tanjakan dan tantangan, tapi justru disinilah fisik, mental, toleransi dan persaudaraan ditempa. Sapaan dan senyum heran mereka selalu kami balas dengan lambaian dan sapaan penuh semangat dan optimisme.

Gerbang TN. Bromo - Tengger
Gerbang TN. Bromo – Tengger

Suasana pada 4-6 km pertama cukup menyenangkan, senyum, tawa dan semangat masih terpancar, belum terlihat jarak yang signifikan antar goweser, semua masih terlihat rapat walaupun beberapa goweser yang berstatus adventure newbie sudah mulai tercecer di belakang. Suasana ini terus berlangsung sampai dengan pos penjagaan masuk Taman Nasional Bromo-Tengger yang merupakan titik re-group dan “selfie” pertama.

Nanjak basah
Nanjak basah

Setelah titik kumpul pertama ini, barulah alam menunjukkan wajah sebenarnya. Elevasi extrem yang bertahap dari 800 ke 2300an mdpl, jalan aspal beton yang rusak serta kemiringan tanjakan sampai 35 derajat yang membuat kami terkadang mengayuh sepeda dengan satu ban karena roda depan sering terangkat (faktor gravitasi dan titik berat bergeser ke belakang) , ditambah hujan kabut yang terus turun dan udara dingin yang menusuk membuat rombongan mulai tercerai berai bahkan beberapa harus di evakuasi karena “menyerah”.

Mulai keder dan tergoda
Mulai keder dan tergoda

Pukul 17.00 – 17.20 WIB rombongan sampai ke titik re-group ke dua yaitu Simpang Jemplang yang merupakan persimpangan antara bibir menuju savana Bromo dan area Ranu Pane lereng Gunung Semeru, yang berarti 10 km menjelang finish etape pertama di Cemoro Lawang.

Simpang Jemplang, Bromo atau Semeru ?
Simpang Jemplang, Bromo atau Semeru ?

Fase istirahat di Simpang Jemplang ini tidak di sia-siakan oleh para goweser yang rata-rata sudah “habis” dimakan tanjakan. Api unggun, snack gorengan dan minuman hangat langsung diserbu tanpa ampun. Beberapa goweser memanfaatkan moment ini untuk mengganti pakaian basah mereka dengan yang masih kering dan hangat, bahkan ada yang memakai batik kerja sebagai baju gowes pengganti, entah demi sensasi atau memang stok baju sudah habis 🙂 .

Api unggung nan hangat
Api unggung nan hangat

Tepat pukul 17.50 WIB setelah breifing dan cek kesiapan sepeda, rombongan melanjutkan perjalanan ke garis finish. Rute Simpang Jemplang – Cemoro Lawang merupakan kombinasi rute advanced cross country dan all mountain berupa turunan curam, jalan rusak, lumpur, savana dan lautan pasir. Rute turunan dipadu pemandangan Bromo yang luar biasa (salah satunya adalah bukit Teletubbies yang terkenal) membuat para goweser berdecak kagum dan melupakan “penderitaan” yang dialami di awal etape ini. Beberapa goweser kali ini memutuskan tidak ikut “turun” dengan pertimbangan sudah tidak kuat menahan dingin dan juga spec sepeda tidak mendukung di jenis track off road.

savana 1

Membelah savana
Membelah savana di sore hari

Diluar dugaan ternyata matahari lebih cepat menghilang di peraduannya saat kami melalui rute lautan pasir. Suasana gelap gulita dan buta arah membuat kami sepakat bersepeda merapat dan saling menjaga jarak dan posisi. Kondisi pasir yang tidak semuanya padat dan level energi peserta sudah jauh berkurang membuat rute ini seakan tidak ada ujungnya. Gundah dan khawatir kami sedikit reda setelah melihat kumpulan cahaya di atas gunung dari kejauhan, itulah Cemoro Lawang yang menjadi tujuan kami. Dari kumpulan cahaya lampu itu kami tertarik kepada salah satu lampu kelap kelip yang sepertinya ditembakkan ke arah kami dan seolah-olah membimbing kami dari kejauhan, apa dan siapakah itu ?

Lost in Sand
Lost in Sand

Setelah kurang lebih 6 km menyusuri lautan pasir di pekatnya malam, Etape pertama hari ini ditutup oleh tanjakan pamungkas dengan kemiringan 45 derajat sepanjang 2 km, sudah ditebak hampir semua dari kami turun dari sepeda untuk melakukan tuntun-tuntun bareng alias TTB sampai di penginapan tepat pukul 20.00 WIB. Kami juga disambut oleh 2 rekan kami (Duo Denni) yang telah finish terlebih dahulu dan mencoba membimbing kami dari kejauhan dengan tembakan cahaya dan mengirimkan marshall motor saat kami terjebak di lautan pasir… its amazing !!!

Akhirnya hari yang melelahkan dan menyenangkan ini ditutup dengan makan malam, bercengkrama serta beristirahat di salah satu homestay kawasan Cemoro Lawang.

homestay 1

Bromo Homestay Breifing
Bromo Homestay Breifing
Homestay LAWANGSARI - Bromo
Homestay LAWANGSARI – Bromo

Minggu, 7 Desember 2014 merupakan hari ke-2 (dan etape terakhir) yang kami tungu-tunggu karena agenda hari ini adalah menjelajah lautan pasir dan objek Pura dengan sepeda dan sesi wajib lainnya yaitu foto-foto.

Setelah sarapan, doa bersama dan check out, kami turun lagi ke area lautan pasir melalaui jalan yang kami lalui tadi malam. Berbeda dengan suasana gowes di malam hari, kali ini lautan pasir membuat kami berdecak kagum dan mengucap syukur kepada-Nya atas apa yang kami nikmati melalui mata kami, Bromo sebuah mahakarya Tuhan yang luar biasa, semoga akan selalu abadi bagi anak cucu kita (tiba-tiba saya teringat lagu “Mahameru” Dewa 19) .

Ciek in act pasir pasir 2

Sand Play Ground
Bromo Sand Play Ground
Act on Sand
Act on Sand

Sesi foto dan eksplorasi lautan pasir selama 1,5 jam kami tutup dengan re-group dan breifing rute selanjutnya, Pananjakan. Nama yang biasa dan mungkin tidak terlalu berarti bagi orang awam, tapi bagi kami para goweser, nama Pananjakan bisa berarti “neraka” tanjakan.

Setelah breifing singkat dari Om Sri Pamudji (Korlap Area Malang), kami baru sadar bahwa apa yang kami perkirakan itu benar. Pananjakan adalah nama jalur/ rute sepanjang 3 – 3,5 km yang menghubungkan lautan pasir Bromo ke Simpang Dingklik, pintu gerbang Wonokitri dengan cara memutar dan merayap sepanjang sisi dalam “mangkuk” dataran tinggi Bromo sehingga view Gunung Bromo dan Gunung Batok akan selalu terlihat saat kita menyusuri rute ini semakin ke atas. Tapi tentu saja yang spesial adalah kemiringan tanjakan yang disajikan, tipe tanjakan “neraka” dengan kemiringan 40- 45 derajat yang tanpa henti, apalagi kita disuguhi adegan mobil jeep Land Cruiser meraung-raung dengan gigi satu untuk menaklukkan tanjakan ini yang membuat nyali gentar sekaligus penasaran.

Beberapa rekan sudah langsung memutuskan melalui tanjakan dengan menikmati empuk nya jok Kijang Innova atau bergaya di bak mobil pick up dengan pertimbangan “sudah habis” dan kerusakan sepeda. Dan akhirnya jalur neraka ini kami lalui dengan sukses walaupun beberapa harus di kombinasikan dengan mendorong sepeda karena kondisi tanjakan yang amat sangat ekstrem dan kabut tebal yang setiap saat menghadang.

pananjakan 1 pananjakan 2

Neraka Pananjakan
Neraka Pananjakan
isi Premium dulu modal di tanjakan
isi Premium dulu modal di tanjakan

Sesampai di Wonokitri, lagi-lagi re-group diadakan, mengingat rute penutup yang akan dilalui merupakan turunan panjang dan mulus tetapi cenderung berbahaya apabila goweser tidak menahan diri. Setelah breifing acara gowes penutup berlanjut dengan rute turunan (benar-benar turunan) sejauh 7-8 km yang sangat menyenangkan sekaligus menegangkan karena dihadapkan pada jurang terjal dan kabut tebal, sehingga jarak pandang terkadang hanya sebatas 5 meter. Beberapa rekan seperti Om Chaidir, Cieko dan  Pak Amir berinisiatif untuk menjadi marshall untuk menjaga rombongan terutama di jalur-jalur tikungan dan turunan tajam dan curam.

Turunan Wonokriti, awas tahan diri !!
Turunan Wonokriti, awas tahan diri !!

Gowes berakhir atau finish di Pasar Tosari. Di sana kami dijemput oleh rombongan mobil dan truk untuk kemudian di antar menuju Bandara Juanda Sidoarjo, tidak lupa di sela-sela perjalanan pulang kami sempatkan mampir ke Nongkojajar untuk sekedar bersih-bersih serta salah satu depot Rawon ternama di bilangan Pasuruan sebagai pelengkap dari rangkaian acara Bromo Adventure yang luar biasa ini.

Finish Pasar Tosari
Finish Pasar Tosari
Wait at Juanda Airport
Wait at Juanda Airport

Sampai jumpa di trip MCC selanjutnya di 2015, Salam gowes dan persaudaraan untuk semua,

Video Koleksi Bromo Adventure :

https://www.facebook.com/video.php?v=10203481108123536

https://www.facebook.com/video.php?v=10203484947019506

by : Clint Buyung Perdana (MCC)

One thought on “Bromo Adventure 2014 – Mandiri Club Cycling (MCC)

Add yours

  1. Dmn saya bs mendapatkan baju MCC , saya danang, dari Mandiri Mitra Usaha Sidoarjo A Yani, dan roadbiker pemula.

    Like

Leave a comment

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑