
Ah, Jakarta! Siapa yang tidak tahu tentang Ibukota Negara Indonesia yang penuh mimpi dan terkenal dengan kemacetan parahnya ini?
Kemacetan sudah menjadi penyakit kronis bagi Jakarta. Berbagai cara dan ide dalam mengatasi macet telah banyak dijalankan dari sisi infrastruktur sampai dengan penyediaan sarana transportasi umum.
Salah satu cara mengurangi kemacetan adalah dengan menggunakan metode transportasi ramah lingkungan seperti sepeda (kayuh ya, bukan motor hehe), alias bike to work atau B2W. Namun, tampaknya masih banyak orang yang belum terpikat oleh pesona naik sepeda.
Dapat dibayangkan ya bagaimana suara hati seorang pegiat bike to work di Jakarta yang setiap hari melongo melihat orang-orang yang “terobsesi” naik mobil meskipun harus terjebak macet dan habis waktu tiap hari. Sebuah potret kehidupan di Ibu Kota yang menjadikan seorang pegiat B2W terpana sambil geli sendiri.
Sedikit kisah inspiratif hasil ngobrol santai di sela sesi jogging bareng dengan salah satu pegiat bike to work sebut saja si Om Jaja, goweser senior yang sudah belasan tahun naik sepeda dari rumah ke kantornya, tentang perjuangan untuk mengubah pola pikir para pencinta mobil pribadi.
Oh iya, saya (penulis) juga seorang pegiat bike to work (hampir 11 tahun mungkin dengan trayek ibukota hehe), jadi obrolan ini memang mungkin mewakili suara kami sebagai goweser pencari nafkah ibukota.
Om Jaja, tiap hari meluncur dengan sepedanya dari rumah di Ciputat (kota dengan rekor suhu terpanas di Indonesia akhir-akhir ini hehe) menuju kantor di bilangan Cikini Jakarta Pusat dengan jarak tempuh rata-rata 25-27 km (tergantung rute).
Di tengah perjalanan, ia selalu menatap heran ke arah mobil-mobil yang terjebak macet dan berdecak kagum, “Wah, mereka rela berkorban begitu banyak waktu dan energi hanya demi naik mobil pribadi. Padahal, bumi ini sudah sekarat, lho!”.
Rasa penasaran Om Jaja semakin memuncak, “Apa yang sebenarnya mereka cari di dalam mobil tersebut? Kenikmatan AC? Kenyamanan duduk? Ataukah ada harta karun yang tersembunyi di dalamnya?”. Pertanyaan-pertanyaan itu terus menggelayut di benaknya, sambil tetap mengayuh sepeda dengan semangat menikmati jalanan pagi yang rumit nan indah.

Namun, di balik rasa herannya, Om Jaja tetap menunjukkan empati kepada mereka yang memang harus menggunakan kendaraan pribadi karena jarak tempuhnya jauh. Pasti ada alasan kenapa mereka memilih naik mobil seperti kondisi fisik terbatas, harus nyambi kerja di jalan dan lainnya bersifat urgent. Tapi buat mereka yang gak ngapa-ngapain, kalau jaraknya masih bisa ditempuh dengan sepeda, kenapa enggak dicoba dulu, ya? tapi semua itu pilihan pada akhirnya.
Om Jaja lalu teringat tentang kawan-kawannya yang sudah mulai “insyaf” dan beralih ke B2W. Mereka juga awalnya ragu, tapi setelah merasakan enjoy nya bersepeda, mereka malah jadi ketagihan! Lagipula, olahraga sambil menjalani rutinitas? Dua misi sekaligus: sehat dan hemat, kan?”.
Om Jaja memang punya kebiasaan asyik dan agak nyeleneh sehari-hari, ia suka melambaikan tangan kepada para pengendara mobil di tengah kemacetan yang melihatnya sambil berteriak “Ayo gowes! enak lho nyelap-nyelip!”, sambil terus melaju (mungkin banyak yang nyinyir kali ye haha).
Hal Ini menjadi salah satu bentuk kampanye Om Jaja dengan harapan semakin banyak orang yang mau mencoba bike to work, khususnya mereka yang punya jarak rumah terjangkau dengan sepeda.
“Kita ini seperti pasukan cinta yang peduli lingkungan. Kalau cinta ditolak, gak usah nangis, masih banyak pilihan yang mau gabung hehe.” katanya dengan senyum lebar sambil nyeruput kopi hitam pahit di tengah sejuknya pagi itu.
Tak lupa, Om Jaja juga mengingatkan mereka yang memang harus menggunakan kendaraan pribadi dan tidak terikta kebutuhan urgent di jalan agar tak sungkan untuk mencoba alternatif lain, seperti angkutan umum yang semakin berkembang di Jakarta.
“Jika memang jarak rumah mereka jauh, setidaknya mereka mau mencoba naik MRT, LRT, atau TransJakarta. Dengan begini, kita bisa bersama-sama mengurangi kemacetan dan polusi udara di Ibu Kota yang tercinta ini,” saran Om Jaja.
Tentu saja, perubahan tak bisa terjadi dalam sekejap. Namun, Om Jaja (dan saya sendiri) yakin bahwa setiap langkah kecil yang diambil akan membawa perubahan yang lebih besar di masa depan.
“Kuncinya adalah keberanian untuk mencoba dan konsisten. Siapa tahu, suatu hari nanti, kita bisa melihat Jakarta lebih hijau, lebih sehat, dan lebih ramah bagi para pesepeda seperti kota-kota besar dan eksotis lain di luar negeri sana,” ujarnya penuh harap.
Sebagai pegiat B2W, Om Jaja terus berjuang untuk mengajak lebih banyak orang memahami betapa pentingnya merubah pola pikir dan gaya hidup demi kebaikan bersama.
“[T]o me it doesn’t matter whether it’s raining or the sun is shining or whatever: as long as I’m riding a bike I know I’m the luckiest guy in the world.”
Mark Cavendish
Lewat sharing obrolan pendek yang asyik dan inspiratif ini, semoga kita semua bisa tergerak untuk mencoba bike to work atau setidaknya mempertimbangkan alternatif transportasi yang lebih ramah lingkungan lainnya yang tersedia.
Jadi, apakah kamu siap bergabung dengan pasukan cinta pedal ini di tengah hiruk pikuk lalu lintas ibukota?
Ataukah kamu masih ingin terus menatap heran pada lautan macet yang menggoda?
Keputusan ada di tangan kalian,
Selamat mencoba, salam hijau dan salam Bike to Work!
Salam Perspexto!
Leave a comment