Tips harmonis Product Manager dan Orang IT

Hello, Sobat Perspexto! Lagi-lagi kita bahas sedikit tentang teknologi namun kali ini kita akan kupas dari sisi para pelakunya, terutama yang seringkali saling kerja bareng di lapangan yaitu duet maut Product Manager (PM) dan orang IT.

Kolaborasi kedua pihak ini selalu dianggap sebagai salah satu faktor terpenting suksesnya suatu terobosan produk digital baru, dimana orang awam (atau orang luar) mungkin selalu menganggap kolaborasinya selalu mulus dan menyenangkan.

Namun siapa sangka bagi orang yang paham atau bahkan bagi para perlakunya, yang dirasakan seringkali hubungan kolaborasi itu terasa gak mulus-mulus banget, sering “pasang surut”, terkadang asyik, terkadang konflik. Kok bisa? bagaimana agar keduanya selalu harmonis?

Pernah nggak sih kalian melihat interaksi PM dan Orang IT seperti ini?

Product Manager: “Bro, aku punya ide nih, gimana kalo kita bikin fitur ngobrol ama AI di aplikasi kita? Pasti bakal heboh, efisiensi meningkat untuk operasional kita dan inovatif banget untuk di publikasikan!”

Orang IT: “Eits, Sob, sadar gak sih kalau itu susah, butuh waktu yang lama. Mending kita cari solusi yang lebih realistis dan bisa diwujudkan dengan teknologi yang ada sekarang, lagian customer masih oke kok untuk menghubungi call center kita.”

Menarik bukan contoh obrolan diatas? Sebelum membahas harmonisasi, sepertinya tidak ada salahnya untuk memahami perbedaan karakteristik secara umum antara para Product Manager dan para IT-ers yang menurut penulis bisa menjadi suatu penyebab atau latar belakang. Namun perlu diingat bahwa karakteristik ini tidak bersifat absolut manjadi atribut setiap orang, namun secara umum yang mungkin biasa ditemukan.

Product Manager – Sang Visioner

Product Manager (PM) kalau diumpamakan itu seperti Batman yang punya visi jauh ke depan dan berani mengambil keputusan. Mereka selalu punya ide-ide cemerlang dan siap melindungi daerah kekuasaan (baca : market) mereka dari ancaman kompetitor yang ada dengan berbagai strategi dan rencana.

Para PM cenderung memiliki pemikiran dinamis yang sangat mungkin berubah sewaktu-waktu (agile thnking) mengikuti perkembangan kondisi pasar, pelanggan, trend teknologi. Mereka hidup dari suatu strategi visi ke strategi visi lainnya. Bagi mereka, setiap waktu yang mereka lalui adalah momentum berpikir mencari inspirasi atau ide; itulah sebabnya jika ada yang bilang bahwa kerjanya 24 jam.

Tapi ingat, jangan sampai terjebak dalam kesendirian dan visi yang tidak berujung, segeralah berkolaborasi salah satunya dengan para orang IT untuk mewujudkan ide yang terpendam!

Orang IT – Sang Sidekick Cerdas

Seperti halnya Alfred yang siap mendukung Batman dengan keahlian teknis dan analitis. Di saat Product Manager bingung dengan teknis dan bagaimana mewujudkan ide, mereka datang dengan solusi jitu dan keahlian yang ciamik.

Orang IT memastikan setiap solusi didukung oleh teknologi yang tepat, ekspansif dan yang paling penting adalah reliable untuk digunakan. Berbeda dengan PM, orang IT hidup dari project ke project, dimana timeline dan milestone adalah misi mereka secara umum.

Tapi jangan lupa juga untuk terbuka dengan ide-ide baru dari si Product Manager baik yang sudah valid dibutuhkan pasar maupun mungkin suatu solusi game changer dengan menciptakan pasar baru, jangan hanya memikirkan sisi teknis dan target milestone saja. Ingat, teknologi dapat maju dan berkembang karena ada keberanian untuk meng eksplorasi peluang-peluang baru dan teamwork makes the dream work!

If two people have the same opinion, one is unnecessary

Stephen R. Covey

Hal tersebut menunjukkan bahwa product manager dan orang IT memiliki perbedaan karakteristik yang mencolok. Tapi justru perbedaan ini yang seharusnya membuat mereka saling melengkapi, seperti Batman dan Alfred yang saling bahu-membahu mencapai tujuan.

Konflik yang terjadi mayoritas disebabkan oleh terjadinya miss komunikasi antar kedua pihak tersebut. Jalan solusinya adalah bagaimana membuat jurang atau gap komunikasi diperkecil sehingga sinergi antara PM dan orang IT semakin efektif dengan cara-cara sebagai berikut:

#1 Translate “bahasa manusia” vs “bahasa alien”

Product manager berkomunikasi dengan banyak sekali terminologi bisnis dan awam sedangkan orang IT punya bahasa sendiri yang kadang terasa seperti bahasa alien bagi orang awam (non-IT). Jangan malu untuk minta penjelasan jika ada istilah atau bahasa teknis yang bikin muka para PM jadi bingung. Begitu juga sebaliknya, orang IT, jangan segan untuk tanya kalo ada istilah dari dunia bisnis atau kebutuhan customer yang bikin bingung. Ingat, saling memahami itu kunci sukses komunikasi!

#2 Jelasin Maksud dengan “Gambar”

Takut kehilangan makna? Jangan cuma ngandelin kata-kata aja, cobain deh pakai sketsa, bagan, diagram, atau flowchart biar lebih mudah dipahami. Dengan visualisasi, ide-ide jadi lebih mudah disampaikan dan dicerna oleh kedua belah pihak. Jadi, nggak ada lagi deh alesan “Aku kira maksudnya itu…”

Lakukan ini sedini mungkin sehingga semua pihak memiliki visi dan konsep yang sama dalam pikirannya. Salah paham yang “dibiarkan” dari awal karena gengsi atau pride masing-masing pihak akan menjadi sebuah bencana di akhir!

#3 Gaya Hidup 3K: Konsisten, Konkrit, dan Kontekstual

Ketika menjelaskan sesuatu, baik PM ke IT atau sebaliknya, usahakan untuk konsisten dalam penyampaian, konkrit dalam memberikan contoh (jika perlu gunakan banyak bahasa perumpamaan untuk menyederhanakan konsep), dan kontekstual dalam menjelaskan situasi. Gaya hidup 3K ini akan menghindari kesalahpahaman yang bisa bikin kita jadi saling cemberut satu sama lain.

Remember, komunikasi yang baik itu seperti resep masakan yang enak, harus lengkap dan pas bumbunya!

#4 Jangan Malu Bertanya jika mulai Kehilangan Arah

Kalau ada yang bikin bingung, jangan ragu untuk tanya. Lebih baik nanya dulu daripada salah terus-terusan. Nggak ada salahnya meminta klarifikasi, malah jadi bukti bahwa masing-masing pihak peduli dengan hasil kerja kita. Jadi, buang jauh-jauh rasa malu, gengsi dan takut di cap bodoh serta salah.

Pepatah mengatakan bahwa satu-satunya kebodohan yang menyebabkan kegagalan adalah keengganan bertanya padahal dia tidak memahami!

#5 Buat goal setting yang saling mendukung

Seringkali duduk permasalahan ada di parameter target antara product manager dan IT berbeda. Produk manager mengejar value bisnis jangka panjang melalui customer dan user experience yang sempurna yang terkadang cukup ambisius.

Di sisi lain IT yang realistis lebih mengutamakan pencapaian target closing project akhir tahun mereka yang terkadang juga kurang “peduli” terhadap apa yang harus di capai di sisi bisnis dan bahkan kualitas (yang penting parameter bahwa project selesai dapat mereka klaim tercapai dengan “hijau”).

Dari hal tersebut penting adanya penyesuaian atas masing-masing goal setting atau key performance indicator (KPI) yang dapat saling mendukung tidak saling berlawanan hanya untuk kepentingan sub-organisasi internal.

Product manager harus paham bagaimana sebuah konsep solusi bisnis digital dapat di breakdown menjadi beberapa inisiatif yang diimplementasikan bertahap namun tetap menghasilkan melalui konsep Minimum Viable Product (MVP).

Hal tersebut selain dapat menjaga strategi delivery solusi ke pasar dan status pionir dibanding kompetitor, hal ini berimpact pada pengembangan teknologi yang dilakukan orang IT pun dapat ditata secara rapi, efisien dan efektif dalam hal menegement resources dan waktunya.

Di sisi lain, orang IT juga harus paham bagaimana keberlangsungan perusahaan ditentukan oleh keuntungan atau cuan bisnis yang didapat, dimana artinya semua orang termasuk seorang programmer IT harus memiliki mindset bisnis oportunis yang baik atas perusahaan tempat dirinya bekerja.

Seorang Project Manager IT ataupun programmer tidak boleh hanya berpikir bagaimana dia bisa menyelesaikan targetnya secara sempurna di akhir tahun untuk mendapat imbalan dari apa yang telah dia lakukan, namun harus ada tanggung jawab moral yang harus dia jawab antara lain apakah yang diselesaikannya sudah memiliki kualitas baik? apakah sudah bisa dijual? mendatangkan untung atau cuan berapa buat perusahaan ini?

Jika semua bisa dijawab, dan semua mengarah ke kepentingan visi dan keuntungan bersama perusahaan, selamat! itu adalah rumus yang seharusnya dicari dan diterapkan.

Synergy – The bonus that is achieved when things work together harmoniously

Mark Twain

Ingat, harmonisasi antara product manager dan orang IT itu sangat penting untuk mencapai target bersama dengan sukses. Jangan biarkan perbedaan karakteristik kita menjadi penghalang, melainkan jadikan sebagai kekuatan untuk menciptakan sinergi yang sehat dan produktif.

Oleh karena itu, mari kita terapkan strategi-strategi atau tips harmonisasi yang sudah kita bahas diatas, agar kita bisa melangkah maju bersama dalam menghadapi tantangan perubahan.

Salam Perspexto!

Leave a comment

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑