Sisi Lain Negeri Ginseng, ternyata …

Korea Selatan = K-Pop, Sinetron .. Yup hampir 80% orang (Indonesia) akan berpendapat sama ketika ditanya tentang Korea Selatan. Korea Selatan telah berhasil menjadikan dirinya sebagai ikon glamor, fashion dan romantisme bagi anak muda di dunia khususnya di Indonesia saat ini. Bak kota Jakarta yang menjadi cerita urban Indonesia tentang kota impian untuk mencari kehidupan yang lebih baik, hampir semua orang memiliki impian untuk bisa hidup dan menjadi orang Korea Selatan, atau bahkan cukup berdandan ala Korea Selatan dalam membuktikan eksistensi mereka.

Keberhasilan di sebuah ajang inovasi membawa saya, seorang yang notabene anti glamor” Korea Selatan berkesempatan menginjakkan kaki langsung di Negeri Ginseng di awal 2014. Harapan saya cukup sederhana, menikmati perjalanan, mencoba sesuatu baru dan berbelanja tanpa memikirkan serta ber andai-andai tentang kehebohan di sana, cukup! Tetapi ternyata saya salah.

Koreaaan

 

(me @ Myeong Dong)

Sikap “anti glamor” Korea Selatan yang selama ini ada pada diri saya justru membawa saya kepada pengalaman melihat sisi lain dari Korea Selatan. Di balik segala keglamoran yang dikenal dunia, Korea Selatan merupakan negara yang berhasil dalam pengelolaan seluruh keterbatasan sumber daya yang mereka miliki.

Jika menilik Korea Selatan, maka terdapat 3 faktor utama yang ditempuh dalam suatu usaha pemberdayaan sumber daya.

Faktor Pertama,

Pembibitan yang berkualitas. Pendidikan adalah salah satu unsur pembibitan yang sangat penting dan “sakral” dari zaman dahulu di Korea Selatan. Orang Korea Selatan percaya apapun kondisi dan strata mereka, apabila sukses dalam pendidikan, maka itulah titik dimana masa depan mereka berubah.

Banyak yang mengatakan sistem pendidikan di Korea Selatan seperti pisau bermata dua, di satu sisi sangat berhasil berimpact pada pertumbuhan ekonomi, inovasi dan prestasi di tingkat global, di sisi lain tekanan dan beban mental yang sangat tinggi memicu tingginya angka bunuh diri di Negeri Ginseng tersebut. Tapi itulah fakta dan konsekuensi yang saya rasa layak dijalani untuk menuju suatu cita-cita.

Hal kecil yang menarik perhatian saya disini adalah, mendadak ekonomi Korea Selatan melambat saat adanya musim ujian masuk Perguruan Tinggi (“suneung” dalam bahasa Korea Selatan) karena semua pihak dari pemerintah hingga swasta disiagakan demi menjaga kelancaran test, jalan-jalan utama ditutup, pemasangan batas/ perimeter dimana-mana.

Jadi dari sini kita mendapat gambaran betapa keras, disiplin serta terstrukturnya pengembangan pendidikan secara kualitas dan kuantitas di Korea Selatan.

Faktor kedua,

Inovasi tiada henti. Inovasi memegang peranan utama bagi Korea Selatan dalam meningkatkan taraf dan kualitas hidup, mengembangakan persaingan ekonomi berbasis kreatifitas yang diterapan di setiap lini produk, hiburan dan jasa yang dihasilkan hingga menjadi suatu ikon global. Dari catatan perjalanan yang saya lihat, inovasi dan kreatifitas lahir dan diterapkan dari hal-hal kecil di sekeliling kita, contoh bagaimana otomasi diterapkan di closet duduk sehingga orang cukup menekan tombol-tombol di remote control tanpa harus bergerak dan berpindah sampai selesai dan bersih. Di sektor sarana umum seperti penerapan e-ticketing di mana-mana, penerapan CCTV sebagai “ mata” yang berhasil menambah efisiensi dan efektifitas kerja aparat polisi, dan bahkan kalau kita lihat di sektor industri dan telekomunikasi yang membuat saya merinding adalah bagaimana teknologi 5G sudah menjadi konsumsi khalayak umum sementara teknologi 4G LTE masih menjadi barang eksklusif di negara-negara lain khususnya di Indonesia (lagi-lagi).

Wacana dan penerapan cara berpikir inovatif tidak hanya di satu pihak atau terpecah pecah, melainkan suatu skema yang terintegrasi antara rakyat, pemerintah dan swasta.

Peran pihak swasta seperti Samsung, raksasa elektronik Korea Selatan yang menjadikan dunia pendidikan sebagai “micro lab” dalam setiap inovasi yang dikembangkan. Jadi jangan heran bila di Indonesia penggunaan gadget hanya sebatas untuk status sosial, eksis dan bergaya dengan hanya memanfaatkan <10% teknologi dari gadget tersebut, lain di Korea Selatan, bahkan siswa-siswi SD- SMA  Korea Selatan sebagian besar sudah menggunakan Samsung Galaxy Note 10 & Pro Series dengan fitur-fitur tambahan yang bersifat pilot project untuk melakukan diskusi, presentasi, mengerjakan tugas hingga melakukan analisa, hasilnya ? tentu saja semua pihak baik siswa, orang tua, pemerintah dan Samsung akan mendapat hasil bernilai dari seluruh proses pendidikan yang inovatif ini, luar biasa bukan !!

Faktor Ketiga,

Pepatah mengatakan “apa yang paling menjadikan suatu bangsa menjadi bangsa tersebut ?” jawabannya tidak lain adalah bagaimana mereka menjunjung tinggi budaya, nilai berkehidupan dan perilaku personal yang dianut.

kor2

(Victory jump @ GyeongBuk Palace)

Yup, salah satu hal yang menjadi perhatian saya dan membuat saya mematahkan janji saya untuk tidak berandai-andai adalah bagaimana bangsa Korea Selatan menerapkan budaya dan perilaku tertib dalam kehidupan sehari-harinya. Korea Selatan merupakan salah satu bangsa yang mengalami kepedihan penjajahan dan kehancuran berkali-kali, sama dengan kita (Indonesia), tetapi kuatnya akar budaya dan komitmen dari rakyat Korea Selatan untuk selalu bangkit lebih baik dari sebelumnya. Hal itulah yang membuat sampai saat ini saya masih bisa menyaksikan ke kokohan Istana GyeongbukGung yang merupakan simbol kehancuran dan kebangkitan rakyat Korea Selatan.

Kondisi alam yang keras mungkin menjadi salah satu faktor yang menjadikan hampir semua rakyat Korea Selatan memiliki etos dan budaya kerja keras dan mungkin hampir tidak mengenal waktu. Kehidupan di Korea Selatan bisa dibilang sangat rapi terlepas dari segala tekanan dan tuntutan hidup yang tinggi disana. Untuk urusan mematuhi tata tertib, sepertinya setiap warga Korea Selatan sudah diprogram bak robot untuk selalu patuh terhadap setiap peraturan dengan tanpa cela dan tanpa pengawasan. Impact nya adalah kehidupan bermasyarakat sangat amat kondusif, teratur dengan angka kriminalitas hampir nol (khususnya di Seoul), kita bisa temui antrean di mana-mana seperti yang kita lihat di Jakarta .. bedanya tanpa komplain dan tanpa klakson, semua orang sudah tau dan paham apa yang harus mereka jalani sebagai makhluk sosial.. Amazing..!!

Itulah Korea Selatan dengan sekelumit kisah dari pengalaman saya. Jika kita melihat Korea Selatan dengan segala dunia glamour dan prestasinya yang mendunia haruslah kita ingat bahwa itu semua adalah buah keberhasilan yang tidak akan pernah bisa ditiru siapapun tanpa melihat sisi lain bagaimana kerja keras, pengorbanan, air mata, keringat dan darah yang telah dijalani dan dihabiskan.

Kalaupun saya harus menggambarkan Korea Selatan sekali lagi sebagai kaum “anti glamour”, maka Korea Selatan = Budayawan, Pejuang dan Inovator modern.

 

by : Clint Buyung Perdana

Leave a comment

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑